Puisi Bait Terakhir Sang Pujangga
Saturday, February 07, 2015

Puisi bait terakhir sang pujangga. Pengertian kata tentang pujangga adalah sebutan bagi seorang pengarang dari hasil-hasil sastra, baik puisi maupun prosa pujangga juga biasa disebut ahli pikir atau ahli sastra. Persamaan kata pujangga adalah sastrawan dan penulis.
Berkaitan dengan pujangga berikut ini puisi tentang pujangga, salah satu penggalan baitnya, "Kidung malam kembali terdengar Nada syahdu mendayu Laksana gubahan rindu yang menyatu Hingga pecahkan hening malam Lidah kelu dan bisu seribu tanya yang tak terjawab". Selengkapanya dari bait ini, disimak saja puisinya berikut ini.
PUISI BAIT TERAKHIR SANG PUJANGGA
Terbaring tubuh renta diruang pengap
Lirih desah nafas sedikit tersengal
Sesekali nanar netra melempar pandang
Pada sebuah gʌmbar usang terpajang
Lalu, tubuh renta itu bersenandung
Nada menyayat hati berkumandang
Entah apa makna dari kidung itu
Hingga seperti luahan luka
Senandung kidung malam kembali terdengar
Nada syahdu mendayu
Laksana gubahan rindu yang menyatu
Hingga pecahkan hening malam
Hilang resah yang membuncah
Dan senyumpun merekah
Sorot matanya yang tajam menembus dada
Seperti hendak memangsa
Hingga tak mampu kuberkata
Tubuh renta itu melambaikan tangannya
Kudekati dengan penuh tanya
Lalu ianya berkata :
"Nak, lanjutkan syair yang belum usai
Tak mampu lagi pena ini menggoreskan aksara
Untailah bait terakhir untukku"
Aku diam terpaku kaku
Lidah kelu dan bisu
Ada seribu tanya yang tak terjawab
Berjejal dialam fikir
Apa yang harus kutulis dibait terakhir sang pujangga ?
Jakarta : 07-02-2015
Demikianlah bait terkhir sang pujangga Simak/baca juga puisi puisi yang lain di blog ini. Semoga puisi di atas menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel puisi selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.
Berkaitan dengan pujangga berikut ini puisi tentang pujangga, salah satu penggalan baitnya, "Kidung malam kembali terdengar Nada syahdu mendayu Laksana gubahan rindu yang menyatu Hingga pecahkan hening malam Lidah kelu dan bisu seribu tanya yang tak terjawab". Selengkapanya dari bait ini, disimak saja puisinya berikut ini.
PUISI BAIT TERAKHIR SANG PUJANGGA
Oleh : Pena Usang Sang Penyair
Terbaring tubuh renta diruang pengapLirih desah nafas sedikit tersengal
Sesekali nanar netra melempar pandang
Pada sebuah gʌmbar usang terpajang
Lalu, tubuh renta itu bersenandung
Nada menyayat hati berkumandang
Entah apa makna dari kidung itu
Hingga seperti luahan luka
Senandung kidung malam kembali terdengar
Nada syahdu mendayu
Laksana gubahan rindu yang menyatu
Hingga pecahkan hening malam
Hilang resah yang membuncah
Dan senyumpun merekah
Sorot matanya yang tajam menembus dada
Seperti hendak memangsa
Hingga tak mampu kuberkata
Tubuh renta itu melambaikan tangannya
Kudekati dengan penuh tanya
Lalu ianya berkata :
"Nak, lanjutkan syair yang belum usai
Tak mampu lagi pena ini menggoreskan aksara
Untailah bait terakhir untukku"
Aku diam terpaku kaku
Lidah kelu dan bisu
Ada seribu tanya yang tak terjawab
Berjejal dialam fikir
Apa yang harus kutulis dibait terakhir sang pujangga ?

Demikianlah bait terkhir sang pujangga Simak/baca juga puisi puisi yang lain di blog ini. Semoga puisi di atas menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel puisi selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.